Dr. Andi Muspida,SS.,MSP., M.Pd., IAP ( Tenaga Ahli P3MD Kab. Wajo)
Inilahmedianasional.id- Wajo. Hari jadi desa sering dirayakan dengan gegap gempita: panggung hiburan, karnaval budaya, dan berbagai lomba warga. Semua itu penting sebagai ruang kebersamaan. Namun, sesungguhnya hari jadi desa bukan sekadar perayaan seremonial. Ia adalah penanda sejarah kolektif—momen untuk berkaca: sejauh apa desa telah bertumbuh, dan ke mana arah desa akan melangkah.
Di titik inilah, hari jadi desa seharusnya menjadi ruang refleksi pembangunan, khususnya pada satu hal yang paling menentukan masa depan desa: **pemberdayaan masyarakat**.
Pembangunan desa tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik semata. Jalan, drainase, balai desa, atau sarana olahraga memang dibutuhkan. Tetapi desa tidak akan maju hanya karena beton yang bertambah. Desa maju karena warganya berdaya: memiliki pengetahuan, akses ekonomi, kepemimpinan sosial, serta kemampuan mengelola sumber daya secara mandiri.
### **Pemberdayaan Bukan Program, Tapi Cara Memimpin Desa**
Kita sering keliru memahami pemberdayaan sebagai program musiman: pelatihan sehari, pembagian bantuan, atau kegiatan yang ramai di awal tapi hilang di akhir. Padahal pemberdayaan adalah **cara memimpin desa**—cara membangun manusia dan jejaring sosial yang membuat desa tahan guncangan, adaptif, dan mandiri.
Desa yang berdaya tidak selalu desa yang besar anggarannya, tetapi desa yang mampu:
1. Menghidupkan partisipasi warga dalam perencanaan dan pengawasan,
2. Mengorganisasi kelompok-kelompok produktif,
3. Menguatkan ekonomi lokal,
4. Menjaga kohesi sosial dan gotong royong,
5. Menghasilkan pemimpin lokal dari warga itu sendiri.
Pemberdayaan adalah investasi yang tidak selalu tampak cepat, tetapi dampaknya paling panjang.
### **Dari Warga sebagai Objek menjadi Subjek Desa**
Hari jadi desa adalah kesempatan penting untuk mengingatkan kembali bahwa pembangunan desa semestinya menempatkan warga bukan sebagai objek, melainkan subjek. Artinya, warga tidak hanya hadir saat pembagian bantuan, tetapi ikut menentukan arah kebijakan desa.
Bila desa ingin melompat lebih maju, maka **musyawarah desa** harus menjadi ruang strategis yang sungguh-sungguh hidup, bukan formalitas administrasi. Aspirasi warga miskin, kelompok perempuan, pemuda, penyandang disabilitas, petani kecil, nelayan, dan pelaku UMKM desa harus menjadi bagian dari desain pembangunan.
Desa yang besar adalah desa yang memberi ruang pada semua warganya, terutama yang selama ini terpinggirkan.
### **Ekonomi Desa: Pemberdayaan yang Paling Nyata**
Di banyak desa, kemiskinan bukan semata karena warga malas bekerja, melainkan karena struktur ekonomi desa lemah: produk lokal tidak punya akses pasar, petani tergantung tengkulak, nelayan tidak punya rantai dingin, dan UMKM tidak terhubung dengan sistem pembiayaan.
Karena itu, pemberdayaan yang paling nyata seharusnya terwujud pada penguatan ekonomi desa:
* pengembangan BUM Desa/BUM Desa Bersama yang profesional,
* hilirisasi produk unggulan desa,
* penguatan kelompok usaha bersama,
* koperasi desa,
* pemanfaatan teknologi digital untuk pemasaran,
* serta memastikan pemuda desa mendapat ruang inovasi ekonomi.
Hari jadi desa perlu memunculkan agenda: bukan hanya “meriah”, tetapi “menguatkan struktur ekonomi lokal”.
### **Gotong Royong Harus Naik Kelas**
Nilai gotong royong adalah identitas desa. Namun gotong royong tidak cukup hanya menjadi kerja bakti sekali sebulan. Gotong royong hari ini harus naik kelas menjadi **solidaritas sosial produktif**: aksi bersama untuk pendidikan anak desa, ketahanan pangan, pengelolaan sampah, perbaikan gizi keluarga, hingga perlindungan sosial untuk kelompok rentan.
Desa yang kuat adalah desa yang mampu menjaga warganya—sehingga tidak mudah tercerai berai ketika krisis datang.
### **Hari Jadi Desa sebagai “Kontrak Sosial Baru”**
Kita perlu menggeser orientasi perayaan hari jadi desa menjadi “kontrak sosial baru” antara pemerintah desa dan warganya. Kontrak sosial itu dapat berupa 5 komitmen tahunan, misalnya:
1. Tidak ada anak desa putus sekolah karena kemiskinan,
2. Tidak ada warga miskin yang tidak terdata dan tidak terlayani,
3. Produk unggulan desa naik kelas dan punya pasar,
4. Perempuan dan pemuda terlibat aktif dalam kelembagaan desa,
5. Pemerintahan desa transparan dan akuntabel.
Jika ini dilakukan, maka hari jadi desa bukan hanya nostalgia, tetapi menjadi momentum pembaruan.
### **Menutup dengan Harapan**
Desa adalah akar Indonesia. Kita tidak mungkin membangun bangsa yang kuat bila desanya rapuh. Karena itu, pada hari jadi desa ini, mari kita rayakan sejarah desa sembari meneguhkan arah: **desa yang berdaya, mandiri, dan bermartabat**.
Hari jadi desa seharusnya menjadi pengingat bahwa ukuran kemajuan bukan semata tampilan fisik, melainkan kualitas manusianya. Jalan bisa dibangun dalam hitungan minggu, tapi pemberdayaan warga adalah kerja panjang yang memerlukan komitmen, keteladanan, dan keberpihakan.
Selamat hari jadi desa. Semoga desa kita tidak hanya semakin ramai dalam perayaan, tetapi semakin kuat dalam pemberdayaan.

