InilahMediaNasional - Suara keras datang dari daerah. Di tengah riuh wacana politik nasional, Partai NasDem Kabupaten Wajo memilih tidak diam. Mereka pasang badan, menolak narasi yang dinilai tidak hanya melenceng, tetapi juga merendahkan marwah partai.
Ketua DPD NasDem Wajo, Taqwa Gaffar, secara terbuka mengecam pemberitaan dan sampul Majalah Tempo yang menampilkan Surya Paloh dalam konteks wacana merger dengan Partai Gerindra.
Bagi mereka, ini bukan sekadar visual atau headline. Ini soal arah opini.
“Tendensius dan manipulatif,” kata Taqwa, singkat tapi tajam. Ia menilai, penggambaran tersebut seperti menggiring publik pada kesimpulan yang belum tentu berdasar, apalagi dikaitkan dengan dinamika politik yang sensitif, termasuk relasi dengan kubu Prabowo Subianto.
Nada pernyataan itu bukan reaktif semata. Ia disebut sebagai tindak lanjut arahan DPW NasDem Sulawesi Selatan—artinya, ada konsolidasi sikap. Wajo hanya salah satu simpul yang kini mulai bersuara.
Di titik ini, isu bergeser dari sekadar konten media menjadi soal batas kebebasan pers. NasDem Wajo menegaskan mereka menghormati kerja jurnalistik, tetapi mengingatkan: kebebasan tanpa tanggung jawab bisa berubah menjadi distorsi.
“Kritik harus berbasis fakta, bukan spekulasi yang dikemas dramatis,” tegas Taqwa.
Pernyataan ini sekaligus menyentil praktik framing—cara media membingkai realitas yang bisa memengaruhi persepsi publik. Dalam pandangan mereka, ketika partai politik diposisikan hanya sebagai objek sensasi, maka yang tergerus bukan hanya citra, tapi juga fungsi demokrasi itu sendiri.
Lebih jauh, NasDem Wajo menolak keras narasi yang mereduksi partai menjadi sekadar komoditas informasi. Mereka menekankan bahwa partai adalah ruang pertarungan gagasan, ideologi, dan aspirasi rakyat—bukan bahan permainan opini.
Tekanan pun diarahkan balik ke media. Taqwa meminta adanya klarifikasi sebagai bentuk tanggung jawab moral atas narasi yang sudah terlanjur beredar.
Namun, di balik semua itu, ada pesan yang lebih dalam: ini bukan sekadar pembelaan internal. Ini adalah sinyal bahwa pertarungan politik hari ini tidak hanya terjadi di parlemen atau panggung kampanye, tapi juga di ruang redaksi dan halaman sampul.
Dan NasDem Wajo, setidaknya untuk saat ini, memilih berdiri di garis depan—melawan apa yang mereka sebut sebagai opini yang menyesatkan.
